Sultanah Latifah School, Bukti Kepedulian Tengku Agung Pada Pendidikan Bagi Kaum Perempuan.

RBSRADIO, SIAK – Tak kalah hebat dari sejumlah tokoh Perempuan di Tanah Air Indonesia, di Sumatera Timur, ada seorang perempuan yang memiliki semangat yang ingin memajukan perempuan lewat jalur pendidikan.

Perempuan tersebut bernama Syarifah Latifah. Perempuan yang pada tanggal 27 Oktober 1912 menikah dengan seorang pemuda bernama Syarif Kasim, tiga tahun setelah pernikahan mereka. Syarif Kasim dinobatkan sebagai sultan bergelar Sultan al-Sayid al-Syarif Kasim Tsani Abdul Jalil Syaifuddin. Sultan Siak ke 12.

Syarifah Latifah menjadi ratu kerajaan Siak yang bergelar Tengku Agung.Tengku Agung, membuat sebuah gebrakan penting dalam perkembangan kerajaan Siak, terutama dalam rangka mendidik perempuan-perempuan melayu. Beliau membuat sebuah sekolah yang secara khusus mendidik kaum perempuan.

Alasan Tengku Agung mendirikan sekolah khusus perempuan berawal dari kunjungannya bersama Sultan Syarif Qasim II ke Residente Sumatera Timur, kota Medan. Sebagai ibukota residen Sumatera Timur, Kota Medan saat itu berkembang pesat. Hal yang menyebabkan Medan menjadi maju adalah karena Medan berfungsi sebagai kota Administratif dari daerah daerah yang kaya akan hasil bumi seperti Deli dan Tanjung Pura.

Di Medan, Tengku Agung melihat perempuan perempuan yang bekerja di perkantoran Belanda, sebuah fenomena yang unik saat itu. Melihat fenomena ini, Tengku Agung berpikir untuk membuka sebuah sekolah bagi kaum perempuan di Siak. Dengan tujuan agar perempuan Siak menjadi maju.

Selain itu, Tengku Agung melihat bawa Tengku Agung juga melihat bahwa anak perempuan Siak belum banyak yang mengenyam pendidikan. Pada masa itu, anak perempuan yang bersekolah, termasuk menjadi murid Hollandsch Inlandsche School /HIS di Siak Sri Indrapura sangat sedikit, Anak perempuan masih banyak yang dikurung di rumah saat itu.

Keinginan Tengku Agung ingin mendirikan sekolah disetujui oleh Sultan Syarif Qasim II, Syarif Qasim II memiliki alasan tersendiri untuk menyetujui berdirinya sekolah perempuan.

Pada tahun 1920-an, perekonomian Siak mulai mundur. Kemunduran perdagangan Siak salah satunya karena Traktat Siak yang ditandatangani pada tahun 1858, sehingga daerah kesultanan Siak seperti Langkat dan Tanjung Pura jatuh ketangan Belanda.

Di kota kota Pantai Timur Sumatera ini, Belanda mendirikan pusat pusat perkebunan seperti karet dan tembakau. Julukan kota Deli pada taun 1920-an adalah kota het dolarland (daerah penghasil dolar), sedangkan Siak saat itu mendapat julukan het donkere zuiden (daerah selatan yang gelap).

Dengan berdirinya sekolah untuk kaum perempuan, Sultan Syarif Qasim II beranggapan sekolah ini bisa menganggat marwah kerajaan disamping perlunya perempuan Siak mendapatkan pendidikan formal selain pendidikan agama.Syarifah Latifah bersama Suami, Syarif Kasim saat masih muda.

Pada tahun 1927, berdirilah sebuah sekolah yang bernama Sultanah Latifah School. Penamaan Sultanah Latifah School tersebut terkait erat dengan peran Tengku Agung atas sekolah ini. Sultanah merujuk kepada status Tengku Agung sebagai permaisuri, bukan sebagai pemimpin kerajaan yang sewaktu waktu dapat menggantikan sultan jika mangkat.

Sementara penggunaan istilah “school” pada Latifah School merupakan hal yang umum pada waktu itu untuk nama-nama sekolah yang pelaksanaannya mengikuti sistem sekolah yang berasal dari barat.Seorang kontroleur Belanda di kerajaan Siak yang bernama Leyds, dalam memorinya Memorie van Overgave (MvO) menjelaskan “Deze school werd in 1927 begonnen, het gebouw in April 1929 betrokken” yang memiliki arti meisjesvolksschool atau meisjesschoo/ sekolah perempuan yang telah dimulai pada tahun 1927, dan bangunan sekolahnya berdiri pada bulan April 1929.

Namun, laporan Leyds tidak menjelaskan secara pasti apakah sekolah ini adalah Sultanah Latifah School, di dalam Memorie van Overgave controleur Siak selanjutnya , Valk yang bertahun 1931 menjelaskan “Een er van, special voor meisjes is te Siak geplaatst, de Sultana Latifah School.” Arti bahasa Belanda ini kurang lebih “…. Salah satu dari mereka, terutama untuk anak perempuan ditempatkan di Siak, di Sultana Latifah School”.

Selain Valk, Controleur Siak, G.R. Seinstra juga menyebut kan “Sultana Latifah School” dalam memorie yang ditulisnya.Sultanah latifah School berada dibawah pengawasan kerajaan Siak. Semua fasilitas dan biaya sekolah ditanggung oleh pihak kerajaan.

Sekolah ini setingkat dengan volkschool/ sekolah rakyat tiga tahun. Tanggung jawab pengelolaan sekolah berada di tangan Tengku Agung. Sekolah memiliki otonomi sendiri dalam pengelolaannya. Para pejabat Pemerintah Hindia Belanda, seperti kontroleur Siak atau asisten residen di Bengkalis hanya sekedar melaporkan saja sebagai bagian dari pengawasan mereka atas daerah landschap/ provinsi karena berada di dalam komplek istana Siak.

Murid murid dari sekolah ini adalah dayang-dayang istana atau anak-anak pejabat di lingkungan istana, dan sebagian lagi adalah gadis-gadis yang berasal dari kampung-kampung di luar istana, bahkan ada dari seberang Sungai Siak atau yang lebih jauh.

Pelajaran di Sultanah Latifah School adalah keterampilan rumah tangga (huishouden), seperti memasak dan keterampilan pekerjaan tangan (handwerken). Selain itu juga mengajarkan pengetahuan dasar seperti baca tulis, pengetahuan umum, dan bahasa Belanda.

Keterampilan keterampilan yang diajarkan untuk menyiapkan kaum perempuan sebagai istri dan ibu yang baik.

Di dalam Memorie van Overgave controleur Siak, Valk pada tahun 1932, menyebutkan bahwa jumlah murid Latifah School 66 orang dengan dua orang guru dan satu orang kepala sekolah.

Guru-guru tersebut ada yang berasal dari Siak dan ada yang sengaja didatangkan dari luar Siak. Guru guru sekolah ini adalah, Halimah Batang Taris yang berasal dari Pematang Siantar, beliau mengajar pelajaran Bahasa Belanda sekaligus menjadi kepala sekolah, Zaidar yang berasal dari Payakumbuh, beliau mengajar memasak, dan Encik Saejah yang berasal dari Siak Sri Indrapura, beliau mengajar pelajaran menjahit.

Sultanah Latifah School juga berperan dalam menyebarkan tenun Siak keluar dari lingkungan istana Siak. Murid murid sekolah yang berasal dari luar lingkungan istana belajar cara menenun, menularkan tenun Siak di kampung mereka masing masing.

Sayangnya, sekolah khusus untuk perempuan yang sempat memiliki murid hingga seratus orang ini meredup namanya di zaman pendudukan Jepang. Sultanah Latifah School dijadikan sekolah rakyat oleh Jepang. Sehingga nama harum dari Sultanah Latifah School menjadi hilang.

Sekolah khusus perempuan Sultanah Latifah School yang didirikan oleh Syarifah Latifah menunjukkan bahwa pada zaman Belanda, ada sebuah gerakan untuk memajukan perempuan Melayu. Sebuah inspirasi dari kerajaan Siak Sri Indrapura. (BAW).

Copas : Majlis Belia Negeri Langkat
repost : Tengku Fauzie Mochrin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1
Mau Pasang Iklan?
Atau Mau Pesan Produk?
Atau Mau request?
Powered by